Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Januari 2012

Essei 3 : Lautku, Lautmu, Lautan Kita

              Oleh Watim Subekti, S.Pd.
            Mayangan dahulu ramai jika malam terang dan perahu nelayan  berlabuh untuk menjual ikan di pelelangan. Desa di pantai utara Subang itu begitu mempesona di malam hari. Deretan perahu berjejer di sungai yang mengalir ke laut. Cahaya lampu bertaburkan sinar berwarna warni menghiasi rumah-rumah penduduk dan perahu di pinggir sungai. Sebagian para nelayan sibuk memperbaiki jaring, sebagian lagi tengah mempersiapan perbekalan untuk melaut. Alunan musik hampir di setiap sudut. Desa ini tidak pernah mati, selama masih ada laut dan perahu yang mendatangi.
Roda kehidupan begitu menjanjikan seiring dengan kesibukan aktivitas ekonomi di desa itu. Para pemilk empang, para nelayan, para juragan, kuli panggul ikan, pengusaha ikan asin, pembuat terasi, para saudagar, sampai pengulit kepiting semuanya menikmati keberkahan dari laut. Para investor pun tertarik atas perkembangan desa ini. Sebuah hotel di bangun, wisata bahari dikembangkan dan sarana transportasi diperbagus.
            Kini semua itu tinggal kenangan. Masa keemasan desa itu telah lenyap ditelan gelombang laut. Tak ada  lagi tambak udang. Tak ada lagi empang. Tak ada lagi perahu besar yang datang. Entah karena pelelangannya tak berkembang ataukah sungainya yang terus mengalami pendangkalan. Dan saat air laut pasang, desa itu seperti  lautan. Semua terendam. Sedikit-demi sedikit bibir pantai  tergerus air laut. Rumah-rumah banyak yang kosong, ditinggalkan pemiliknya. Sebagian masih tetap menerima kenyataan hidup apa adanya. Karena harus ke mana  lagi bermukim. Ini satu-satunya tempat untuk berteduh. Tempat semua harapan dan impian digantungkan. Laut yang kini, bukan lagi laut yang dahulu.
            Beberapa perahu lokal masih ada yang mengais rizki di laut. Mereka mencari ikan, kepiting, udang, rumput laut,kerang,limbah plastik walapun harus melawan keganasan gelombang. Seolah tak ada pilihan lain. Itulah yang harus dilakukan untuk menghidupi keluarga. Demikianlah yang diwariskan dari nenek moyangnya. Di laut dan ke laut mereka harus hidup. Dalam situasi apa pun dan dalam kondisi  yang bagaimanapun, mereka harus hidup dengan laut. Laut adalah jiwanya. Hidup atau mati.
            Mereka tidak memahami apa yang terjadi dengan tempat kehidupannya. Yang mereka  tahu kini laut tak bisa lagi diramal. Kapan datangnya air pasang besar tak bisa lagi berlangganan. Mereka hanya memahami bahwa sejak terjadinya tsunami di Aceh air laut mulai berubah. Gelombangnya besar, abrasinya cepat, dan permukaanya semakin tinggi. Begitulah mereka menghubungkan keganjilan itu dengan kejadian akbar beberapa tahun lalu di ujung Sumatera. Entah karena pristiwa itu terlalu terkenal ataukah karena waktu perbuhannya yang bersamaan atau memanag benar ada korelasinya. Biarlah kita cari jawabnya nanti. Karena betapa sulit kita memahami tempat tinggal kita. Betapa sukar kita menjawabnya. Begitu banyak yang harus kita tautkan atas semua perubahan tentang dunia kecil kita.
            Anomali laut kita itu hanyalah sebuah misteri saja dari sekian misteri yang kita punya. Seperti pelaut sejati kita di atas, tak begitu banyak yang dapat kita ceritakan untuk menjawab satu misteri itu. Kecuali di antara penghuni dunia kecil ini memperlakukan tempat tinggalnya penuh dengan keserakahan. Kecuali di antara kita mencoreti planet indah ini dengan sekecsta yang keliru. Hingga pada suatu keadaan tak ada lagi dahan tempat kicauan burung, akar tempat air bergelantung, daun tempat yang hidup bernafas, dan pohon tempat penyejuk pada bumi yang akhir-akhir ini semakin panas.
            Semua itu atas nama kemajuan. Semua itu beralibi demi kemakmuran. Tanpa batas, begitu deras, dunia kecil kita itu dipaksa mengikuti kehendak penghuninya. Dipaksa dipereteli pepohonannya, dipaksa diambil isi perutnya, dipaksa dikotori limbah, dipaksa diasapi, dipaksa dirumahi kaca, dipaksa menghirup gas perusak ozon. Jika tidak dipaksa, mungkin akan lain ceritanya karena sudah menjadi tugasnya memuliakan penghuninya. Menjadikannya tanaman berbuah, menyimpannya air untuk minum dan keperluan lainnya, memberinya gas yang sejuk.
            Dunia kecil kita itu kini menangis. Tak sanggup lagi menahan beban derita dan penyiksaan penghuninya. Tak tahan lagi menahan panas sang surya karena pelindungnya rusak oleh kita. Air matanya mengalir dari mata kutub utara dan mata kutub selatan dan bertumpah ruah menuju  lautku,lautmu dan lautan kita.
Subang, 29 Januari 2012

Sabtu, 21 Januari 2012

Essei 2: Satu Sudut di Mendalo Darat

Oleh Watim Subekti,S.Pd.

Kakek itu duduk di bawah pohon durian dengan ritme nafas yang tak normal. Ketuaannya yang membuat ia begitu. Bekerja dan berjalan agak cape sedikit nafasnya segera tersenggal-senggal. Ia menatapku dengan penuh kejut. Dan di saku komprangnya ia keluarkan sebatang rokok putih. Seperti memegang binatang yang menggelikan, ia menyerahkannya padaku.

“Ini rokok kesukaannmu. Kau, da ado rokok kan? “ Si kakek yang akarab di panggil Mbah Kaolan itu tau betul aku tak punya rokok. Ia tersenyum sambil terus memegang rokok dengan kedua jarinya.
“ Dapat dari mana,Mbah? “
“ Adolah,’ katanya. Aku tahu ia tidak merokok. Entah dari mana ia memperoleh sebatang rokok itu.

Suhu panas di siang hari dengan sedikit angin, di bawah pohon durian itu menjadi tempat yang nyaman. Sejak aku tinggal di si Mbah, tempat duduk yang sederhana itu sudah ada. Menjelang sore segera akan rame oleh penghuni kost di tempat si Mbah untuk bersenda gurau. Malammnya kadang dipakai untuk berdiskusi, mengerjakan tugas, dan kalau malam minggu untuk bernyayi-nyayi.

Si Mbah kaolan masih terduduk sambil mengipas-ngipas badanya dengan sarung. Jika siang yang gerah begini, ia hanya mngenakan celan komprang putih dengan kaus singlet. Juga berwarna putih. Sebuah sarung diselendangkannya melintang di bahu. Begitu kesehariannya. Mengawasi tempat kost dengan penuh perhatian dan mejadi scurity bagi tamu lelaki yang berkunjung ke kamar kost perempuan. Ia sangat ketat terhadap yang satu itu. Ia tidak ingin tempat kostnya menjadi tempat mesum. Bahkan ia tak segan-segan memarahi dan mengusirnya jika kedapatan ada tamu lelaki di kamar kost perempuan yang melanggar peraturan.

Masih di bawah pohon durian ia duduk bersamaku dan tiba-tiba sepenggal cerita masa lalunya diutarakan kepadaku. Ia merantau dari Jawa ke Jambi ketika jaman revolusi fisik pemepertahankan kemerdekaan. Tahun berapa pada episode mana, tak jelas kuketahui.
“ Aku rebut senjata itu dari Nipon,Tim! Nian ! Da ado dio melawan. Da Ado.” Begitu semangat ia bercerita. Mengisahkan ketika perebutan senjata pada tentara Jepang.

“ Dulu ado senjatanya. Pernah kupakai untuk mengepung harimau. Pelurunya jugo banyak. Sekarang lah habis,” katanya sambil sesekali membersihkan mukanya dengan sarung. Ia mengatur ritme nafasnya dan kembali menceritakan tentang perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan. Sampai akhirnya ia menikah dengan orang Jambi dan beranak pinak di Mendalo Darat. Ketika revolusi fisik, ia termasuk yang selamat. 

Kawan-kawannya banyak yang gugur. Ia bukan tentara, ia hanyalah rakyat biasa. Namun saat itu tidak ada pembeda antara tentara dan rakyat. Semuanya sama: pejuang. Pejuang yang siap mengorbankan segalanya untuk kemerdekaan. Ia tidak memilki lencana dan bintang kehormatan. Ia tidak ditulis dalam prasasti. Ia tak pernah pula meminta untuk mencatatnya. Ketika hasil perjuangan itu benar-benar telah diraihnya, ia hanya hidup dari sejengkal tanah yang ditanami palawija untuk sekedar merasakan bahwa kita telah merdeka!

Pejuang adalah pejuang. Di mana dan kapan pun pejuang akan tetap menjadi pejuang.Tidak terlindas oleh dimensi ruang dan waktu.Tak ada kemerdekaan itu tanpa pejuang. Mbah Kaolan dan Mbhah kaolan yang lainnya adalah pejuang yang terlupaan dari lembaran buku sejarah dan tak memintanya untuk menuliskannya. 

Namun pemahaman kita terhapa Mbah Kaolan dalah rakyat yang berusaha untuk berdaulat di tanah leluhurnya. Rakyat yang berani mati untuk sebuah harga diri. Rakyat yang tak pernah menuntut apa-apa dari bangsanya. Rakyat yang berhak menetukan nasib hidupnya.

Mbah Kaolan kini telah tiada. Ia sudah meninggal di hari Idul Fitri, sudah lama sekali. Tapi, di bawah pohon durian itu, di sudut kota Mendalo Darat, Mbah kaolan terasa masih ada walaupun mungkin sekarang kurang mengenalinya.

Subang, Januari 2012

Kamis, 19 Januari 2012

Essei1: Korosi Nilai-nilai (Sebuah Permenungan)

Oleh Watim Subekti,S.Pd.


Pada bentangaan waktu tertentu revolusi fikir-rasa menjadi sebuah pemelajaran hidup yang kadang tak memilki definisi. Sosok manusia manapun yang pernah ada di muka bumi tak terelakan menghadapi revolusi baik secara biologis-psikologis maupun sosiologis-ekonomis. Adalah hal yang alami saja terjadi ketika paradigma yang melandasi sikap-perilaku itu harus juga berubah tatkala eksitensi hidup menjadi sebuah kenyataan yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Dan dalam bingkai itulah proses nilai-niliai luhur yang dianut dapat mengalami pengkorosian.

Ketika kita benar-benar menyadari bahwa kesejatian fikir-rasa itu menggugat atas berbagai ketidakteraturan, ketidakadilan, ketidakmenyenangkan,ketidaktataharmonisan, maka kemunculan kesejatian fikir-rasa akan mengalir mencari keseimbangan. Dan sampailah kita pada suatu pertanyaan : masih bisakah kita mengembalikan nilaia-nilai luhur itu menjadi panutan dalam bersikap-laku dalam keseharian pada tatanan sosial manapun?

Jujur adalah sebuah karakter yang melekat pada sosok mahluk bernama manusia dengan kriteria tertentu. Tetapi pengetahuan kita sangat terbatas akan penjujuran manusia. Hingga sampai detik ini kita selalu ke-co-lo-ngan akan kejujuran itu. Penampakan kejujuran itu sendiri menjadi bagian eksploratif manusia lain yang mencoba untuk merekam satu sisi gelap pada prespektif tertentu.

Lunturnya nilai-nilai luhur yang kini betul-betul kita sadarai eksistensinya telah berdampak luas pada sisi khidupan sosio-ekonomi kita. Secara kontekstual lini terbelakng masyarakat ekonomi harus menanggung resiko itu. Bahkan mungkin memiliki nilai jual bagi pemangku kepentingan. Demikianlah adanya. Sebagaian dari kita menerimanya sebagai sebuah kenyataan hidup yang tak terelakan .

Nilai kejujuran kini menjdi komoditas langka dan berharga karena kita sulit mendapatkannya. Bagaimanapun kita dibentuk dari sebuah tatanan sosial masyarakat hingga kesendirian itu menjadi permustahilan. Dan celakannya ketika nilai-nilai luhur dalam kehidupan sosial kita mengalami korosi, kita menjadi bagaian yang tak terpisahkan.

Korupsi bukan budaya kita. Bukan pula warisan pendahulu kita. Proses korupsi terjadi pada tata-soasial hidup-kehidupan dari suatu desain sistem yang mengabaikan nilai-nilai luhur. Erosi dan korosi nilai-nilai luhur itu dari sebuah paradigma tanpa landasan moral yang kita yakini kebenarannya. Baik itu yang bersumber dari religi mapun dari kearifan budaya kita.

Apakah kita sudah kehilangan nilai-nilai luhur ? Hingga kita sampai saat ini masih tak memahami yang terjadi di sekeliling kita. Seorang ibu akan berbelanja diperkosa di kendaraan yang seharusnya bertanggung jawab atas kselamatan dan kesampaiannya.Seorang ayah menghamili anak kandungnya sendiri yang seharusnya menjadi tameng atas kesuciannya. Bundaran HI tak pernah sepi dari sebuah demontrasi. Entah itu demokrasi, politisasi atau hanya sekedar mengais rizki. Televisi tak pernah berhenti menayangkan korupsi. Dan ketika sepeda motor begitu mudah didapat, ada komunitas yang membunuh, membrutal,dan sampai ada yang menghancurkan sebuah ambulan.Sedikit contoh yang manampakkan akan kegamangan kita menyaksikan tata-perilaku hidup.

Proses pembentukan tata-prilaku kenilaian itu juga merupakan sebuah perjalanan panjang dan penuh fluktuatif. Pembiasaan mengambil sedikit peran dari rangkaian pengkarakteran. Sekolah adalah sebuah model saja bagi proses ajar sikap-laku calon warga yang akan mereparasi kembali nilai-nilai luhur masyarakat yang telah korosi. Dan suatu saat nanti kita tidak perlu lagi menginventrisasi atas karakter- karakter yang harus di kembangkan di sekolah karena semua itu merupakan nilai yang terus berkembang di masyarakat dan diwariskan turun temurun ke anak cucunya melalui tata-hidup-sosial masyarakat, berbangsa dan bernegara. 

Subang, Januari 2012.